Kisah Tiga Warga Kularan, Mencari Rezeki Menempa Pelat Besi

 Kisah Tiga Warga Kularan, Mencari Rezeki Menempa Pelat Besi

Sudiyantoro, tak lelah menempa pelat besi hingga jadi alat tani. (Foto: Wiradesa.co)

KULONPROGO – Menempa pelat besi baja agar menjadi alat-alat pertanian macam sabit dan cangkul butuh kekuatan fisik para empu atau pandai besi. Kekuatan otot lengan buat mengayunkan besi pemukul menyerupai palu berukuran besar dengan berat sekitar 10 kilogram bagi tiga sosok lelaki warga Kularan Triharjo, Wates; Sudiyantoro, Sunarto dan Maksum Riyadi memang telah terbentuk, karena mereka telah berbilang tahun sebagai pandai besi.

Di samping kekuatan otot, juga butuh keteguhan hati. Tak berhenti menempa hingga bentuk dan ketebalan pelat besi sudah sesuai keinginan untuk selanjutnya dirapikan wujudnya dengan gerinda dan kikir serta terakhir proses penyepuhan.

“Bahan-bahan berasal dari logam per mobil yang didapat di pengepul rongsok juga dari pemasok langganan. Belinya kiloan,” kata Sudiyantoro ditemui di bagian belakang rumah yang dijadikan tempat produksi alat-alat pertanian tradisional.

Siang itu, Minggu 7 Agustus 2022, beberapa alat seperti sabit, bapang, pacul atau cangkul telah diselesaikan. Proses penempaan, dimulai dengan pemanasan pelat besi di atas bara arang. Agar bara api tetap menyala, tiupan moncong blower listrik ke arah bara api dilakukan setiap saat. Mati-nyala blower dikontrol melalui pencetan saklar.

Begitu pelat besi telah dipanaskan dalam bara api hingga menyala merah, tang penjepit besi yang dipegang Sudiyantoro akan segera dipindahkan ke tatakan besi. Penempaan dengan pukulan palu besi besar berulang-ulang oleh Sunarto dan Maksum Riyadi dilakukan secara bergantian. Sekira 40 pukulan, bara pada pelat besi tampak meredup, berarti waktunya bagi Sudiyantoro memasukkan kembali pelat besi ke dalam nyala bara api. Begitu seterusnya proses penempaan sampai didapat hasil sesuai keinginan.

“Pembuatan alat seperti sabit, kudi, bapang, bendo, golok kecil, pisau, relatif lebih cepat. Sekitar satu jam. Namun bila membikin cangkul, lebih lama lagi. Selesai penempaan pelat besi menjadi cangkul dan difinishing bisa habis waktu 5 jam,” timpal Sunarto.

Baca Juga:  Penuhi Kebutuhan Hidup, Yosi Jualan Pisang Panggang di Pinggir Muaro Pariaman
Proses finishing sabit, cangkul dengan cara digerinda dan dikikir. (Foto: Wiradesa.co)

Pekerjaan Sunarto dan Maksum Riyadi tatkala jeda menempa besi diselingi dengan proses menghaluskan sabit atau cangkul dengan gerinda dan kikir. Menurut mereka, kegiatan produksi baru dilakukan kala libur jualan alat tani tradisional di Pasar Krendetan dan Pasar Purwodadi, Purworejo. “Kami bertiga memang dagang alat pertanian ke pasar. Jadwalnya di Pasar Purwodadi Senin dan Kamis di Krendetan Rabu dan Sabtu. Selasa, Jumat, Minggu buat mengurus sawah, ternak dan membikin alat pertanian,” ungkap Sudiyantoro.

Di pasar, mereka memajang sabit, cangkul, pisau, golok, beserta alat pertanian produksi mereka ditambah barang pesanan pelanggan. “Harga bervariasi antara Rp 40, Rp 80 dan termahal cangkul, satunya dijual Rp 150 ribu. Di samping jual barang baru juga menerima servis perbaikan alat-alat pertanian macam cangkul dan sabit,” imbuhnya. Biaya servis pacul, sabit, antara Rp20-30 ribu. Musim mau menanam padi biasanya menjadi masa ramai orang melakukan perbaikan cangkul dan sabit.

“Menempa pelat besi bagi yang tak biasa tentu sangat berat. Butuh fokus juga agar besi yang sudah tajam tak sampai menyerempet kulit tangan tatkala digerinda atau dikikir. Sebagai rutinitas, secara khusus kegiatan ini memang sudah kami niatkan buat jalan mencari rezeki,” pungkas Sudiyantoro. (Sukron)

Sukron Makmun

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: